Friday, October 9, 2015

TEMPAT SAMPAH MINIM UNTUK UNIVERSITAS KONSERVASI

Universitas Negeri Semarang dalam pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat memiliki konsep yang mengacu pada prinsip-prinsip konservasi. Prinsip-prinsip konservasi yang mencangkup perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari, baik konservasi terhadap sumber daya alam, sumber daya manusia, seni, dan budaya. Namun pada kenyataannya, hal ini sangat melenceng dari prinsip-prinsip konservasi tersebut. Sebagai contoh kebersihan lingkungan yang tidak lagi dijaga karena adanya sampah yang berserakan.


 
Sampah adalah kotoran yang dihasilkan karena pembuangan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tetapi kita tidak mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat jika diproses dengan baik dan benar. Sampah juga bisa berarti sesuatu yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu lama maka akan menyebabkan penyakit padahal dengan mengelola sampah secara baik dan benar maka bisa menjadi benda ekonomis.

UNNES sebagai salah satu kampus yang terkenal dengan kampanye konservasi, menjadikan kebersihan lingkungan merupakan salah satu komponen yang penting dalam mengkampanyekan UNNES sebagai kampus konservasi. Kebersihan harus dijaga dalam setiap sudut yang ada di kampus, khususnya di tempat-tempat yang cukup strategis dan sering dilalui/digunakan mahasiswa seperti, gazebo, halte, ruang kelas, dan trotoar. Untuk mendapatkan lingkungan yang bersih diperlukan sarana yang mendukung yaitu tempat sampah yang memadai khususnya di tempat-tempat yang strategis.

Ruang kelas beberapa sudah tersedia tempat sampah meskipun begitu, tetap ada beberapa ruang kelas yang tidak disediakan tempat sampah. Padahal kita tahu bahwa ruang kelas adalah tempat yang sangat vital bagi kita mahasiswa. Karena ruang kelas sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar kita di dalam kelas, jika lingkungan kelas kita kotor maka kegiatan belajar mengajar akan terganggu kenyamanannya.

Gazebo merupakan tempat umum yang cukup sering digunakan mahasiswa untuk menunjang kegiatan perkuliahannya. Biasanya mahasiswa menggunakan gazebo untuk mengerjakan tugas kelompok, sharing dengan tenan-temannya juga untuk sekedar bersantai-santai. Tidak jarang ketika para mahasiswa sedang melakukan aktivitasnya di gazebo mereka menghasilkan beberapa sampah kecil, seperti kertas, bungkus makanan, botol minuman plastik, dan lain-lain. namun karena tidak ada tempat sampah yang tersedia di sekitar gazebo akhirnya mereka membuang sampah di sekitar gazebo yang menjadikan sampah berserakan dan lingkungan terksesan kotor.

Halte merupakan tempat umum selanjutnya yang cukup sering digunakan mahasiswa untuk sekedar duduk atau menggu teman. Disaat seperti inilah tak jarang akan ada seglintir sampah yang muncul. Meskipun smapah yang dihasilkan tidak seberapa namun jika dibiarkan lama kelamaan sampah ini juga akan mengganggu kebersihan lingkungan yang ada di sekitar. Dan di tempat ini juga tidak tesedia tempat sampah.

Trotoar merupakan area bagi para mahasiswa yang berjalan kaki untuk sampai ke kampus. Tempat/area ini cukup penting untuk disediakan tempat sampah karena tempat ini sering dilalui banyak orang dan bukan tidak mungkin sewaktu-waktu mereka membutuhkan tempat sampah untuk sekedar membuang sampah-sampah kecil.

Mahasiswa seringkali merasa kebingungan karena sampah yang mereka hasilkan akan dibuang kemana karena minimnya tempat sampah disekitar UNNES. Padahal tempat sampah sangatlah penting dalam rangka menjaga lingkungan sekitar. Dengan adanya tempat sampah yang banyak maka akan meminimalisir terjadinya sampah yang berserakan. Kita sebagai Universitas yang menjalankan prinsip konservasi sangatlah tidak pantas jika melihat sampah yang berserakan seperti itu. Seharusnya UNNES menyediakan tempat sampah yang banyak guna menunjang pelestarian lingkungan sekitar UNNES. Harapannya kedepan untuk menjadikan Unnes sebagai Universitas yang benar-benar menjalankan konservasi, bukan hanya wacana belaka.

Kontributor:
Giofanka Ulfi Syafira(7311415181), Rhesty Febriani(1511415101), Muhammad Riva’i(5202415069), Muhammad Akyas Khan(5202415047)

Thursday, October 8, 2015

GO PAPERLESS TO SAVE OUR EARTH

Tahun 2010, UNNES mendeklarasikan diri sebagai universitas konservasi. Hal ini memunculkan konsekuensi untuk berkomitmen dalam menjaga alam sekitar, diantaranya melalui penghijauan dimana-mana, pengelolaan sampah, dan upaya mewujudkan gerakan go paperless. Nirkertas merupakan usaha mengurangi produksi dan penggunaan kertas, merupakan suatu cara sederhana namun memiliki tujuan dan manfaat yang besar untuk mencegah berbagai masalah serius. Salah satunya adalah global warming. Bahan baku kertas adalah kayu berasal dari pohon, pabrik kertas harus menebang pohon dengan jenis dan kualitas tertentu untuk menghasilkan kertas. Semakin banyak kebutuhan akan kertas berarti semakin banyak pohon yang akan ditebang. Pembuatan kertas berasal dari serat pohon, atau dengan kata lain bahan dasar kertas diambil dari alam. Jika produksi dan pembuatan kertas terus dilakukan tanpa terkendali, itu sama saja membuat setiap pohon yang seharusnya berfungsi menyeimbangkan alam menjadi bahan berbahaya yang dapat merusak bumi kita. Disamping asal bahan baku kertas dari pohon, ternyata proses pembuatan kertas membutuhkan banyak energi dan menghasilkan limbah-limbah berbahaya.



Untuk itulah kita perlu melakukan tindakan yang mampu menanggulangi segala hal yang dapat merugikan bumi kita. Salah satunya melakukan budaya nirkertas. UNNES sendiri sudah mulai beralih dari yang dahulu segala sistem dilakukan melalui media kertas. Sekarang sudah beralih ke software. Dari sistem administrasi, pendidikan, informasi, atau apapun yang berkaitan dengan kertas. Seperti yang kita ketahui pada zaman yang semakin canggih ini, tentunya dengan mamanfaatkan teknologi yang semakin maju segala hal akan semakin mudah dijangkau. Setiap orang dari generasi berbedapun telah mengerti tentang apa yang dimaksud internet, socmed, gadget, dsb. Sedangkan di UNNES sendiri dalam melakukan sistem perkuliahan banyak sekali web yang digunakan untuk tempat informasi. Seperti SIKADU, SIMULANG, MYUNNES, ELENA, SIOMON, SIMAWA, SIMARTA, SIANGGAR, SIMPEG, SITEDI, dan masih banyak lagi. Kebijakan inipun cukup membantu mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Mahasiswa dapat mengetahui tugas, materi, ataupun nilai dari web yang disediakan tersebut. Mahasiswa dapat mengakses dimanapun dan kapanpun dengan mudah. Dosenpun dapat memberi tugas, materi yang akan disampaikan sebelum mata kuliah tersebut dilaksanakan.

Dan dari kebijakan nirkertas tersebut diharapkan UNNES mampu mewujudkan universitas yang konservasi dan tentunya ikut mampu mengurangi masalah kerusakan bumi yang semakin parah ini.

Namun tindakan baru untuk meninggalkan kertas sebagai media utama kita dalam menorehkan tulisan, tidak selamanya mudah. Ada beberapa hal yang mungkin menjadi kendala untuk menerapkan sistem go paperless ini. Diantaranya, dalam penerapannya kita pasti memerlukan fasilitas teknologi yang mendukung dan dalam memberikan fasilitas tersebut kita membutuhkan financial yang harus memadai pula.

Kontributor:
Fida Nur Rahmat Kurniawan (5202415088); Siti Fatimah Nursa’adah (5401415008); Syafitri Nur Aini (7111415036); Adebba Ramadhanti Noury (1511415104

Tuesday, October 6, 2015

Mahasiswa dan Masalah Lingkungan di Sekitar Kampus

Lingkungan hidup adalah bagian mutlak dari kehidupan manusia. Dengan kata lain, lingkungan hidup tidak terlepas dari kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari manusia pun berasal dari lingkungan hidup. Oleh karenanya tantangan dan tuntutan pengelolaan lingkungan saat ini semakin tinggi, dengan semakin tinggi meningkatnya jumlah penduduk, sehingga permasalahan terhadap lingkungan hidup pun semakin meningkat pula. 

Sebagai makhluk hidup yang bijak tentunya sangatlah peduli terhadap lingkungan tempat ia singgah. Adanya tindakan pelestarian merupakan hal wajib yang harus dilakukan oleh setiap makhluk hidup. Itu semua demi kelangsungan hidupnya bahkan anak cucunya. Karena tak dapat dipungkiri setiap dari makhluk hidup sangatlah membutuhkan hal tersebut. Makhluk hidup dikelilingi oleh bahan-bahan dan kekuatan-kekuatan yang membentuk lingkungannya. Adanya tetumbuhan yang tumbuh karena didukung adanya kontruksi tanah, air dan udara yang membantu proses pertumbuhannya. Begitu pun binatang yang mampu menjalankan kelangsungan hidupnya dengan didukung adanya tumbuhan-tumbuhan yang mampu ia konsumsi bagi binatang vegetarian. Itulah lingkungan hidup, yang didalamya terdapat kebutuhan hidup, tumbuh, serta berkembang biak.


Bumi merupakan satu-satunya planet yang didalamnya beraneka ragam ekosistem yang saling mendukung satu sama lain. Adanya pertumbuhan serta perkembang biakan makhluk hidup sangatlah kompleks terjadi di planet bumi ini. Terjadinya sebuah sistem yang tertata rapih membentuk sebuah ekosistem kehidupan. Namun sampai saat ini bisa diperhatikan bersama adanya beberapa ekosistem yang satu persatu mulai terlucuti. Mulai adanya ikut campur tangan manusia yang tak bertanggung jawab hanya demi kepentingan pribadi saja. Hutan yang notabenenya sebagai paru-paru dunia perlahan menjadi jantung kota. Dari sinilah setidaknya bisa kita simpulkan bahwa lingkungan hidup yang baik bukanlah hanya lingkungan yang bermanfaat bagi sebagian golongan makhluk hidup saja. Namun lingkungan hidup setidaknya mampu menjadi pendukung perkembangan lingkungan yang lain.

Sebagai mahasiswa yang mengemban predikat sebagai agent social of change tentunya mempunyai upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan tempat singgah kita. Tidak hanya sebagai penikmat saja akan tetapi harus mempunyai tindak real terhadap hal tersebut. Karena kerusakan demi kerusakan sudah sering dijumpai di sekeliling tempat singgah kita.

Mahasiswa sebagai elemen intelktual harusnya sebagai pelopor pelestarian. Inovasi-inovasi yang timbul haruslah diawali oleh mahasiswa. Dimulai dari hal yang sederhana seperti pemanfaatan limbah kecil di sekitar dari hal terkecil itulah yang mampu terjaga keterus-menerusannya daripada hal besar yang hanya seperti efek soda yang hanya akan berdampak di awal saja. Program yang dapat dilaksanakan demi mengatasi masalah limbah di lingkungan kampus antara lain dengan melakukan pengolahan terhadap limbah tersebut. Pengolahan itu meliputi daur ulang kertas, plastik, logam/kaleng, pengolahan limbah laboratorium, dan pengolahan bunga/daun kering. Dalam rangka melakukan pengolahan limbah tersebut, hal pertama yang dapat dilakukan yaitu pemisahan tempat sampah antara sampah organik dan sampah anorganik di setiap gedung Unnes.

Program kelanjutan dari pemisahan sampah ini adalah adanya pengelolaan yang berkelanjutan sesuai dengan jenis sampah tersebut, sampah organik dikelola menjadi pupuk kompos, sedangkan untuk sampah anorganik dilakukan pemilahan untuk dilakukan daur ulang atau dikirim ke TPA. Selain untuk menjaga kelestarian lingkungan diperlukan pula pengelolaan lingkungan meliputi pengelolaan sampah, daur ulang sampah organik menjadi kompos dan perencanaan Unit Pengelolaan Limbah Laboratorium Kimia dan Biologi. Dalam pengolahan kompos ini warga sekitar lingkungan kampus juga dilibatkan agar terciptanya lapangan pekerjaan bagi warga sekitar guna mendukung budaya konservasi. Pengembangan pengolahan kompos ini dilakukan bertahap seiring peningkatan produksi pupuk kompos yang diproduksi.

Kontributor:
2601414092_YULIANI ASRININGSIH

Monday, October 5, 2015

"RECYCLING" SELAMATKAN BUMI

Sampah ibarat pemandangan yang sering kita lihat, baik itu di jalan, sungai, maupun disamping tong sampah itu sendiri. Sebagai bagian dari kampus konservasi UNNES, kita sebagai mahasiswa UNNES seharusnya menjadi lebih sadar akan hal-hal mengenai lingkungan alam. Dengan contoh yang amat umum, sejak kita masih duduk dibangku sekolah dasar kita sudah diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya. Itu merupakan ajaran yang sangat mulia, tetapi jika dipikir secara panjang dan dalam jumlah yang sangat besar, sampah-sampah tersebut akan dibuang kemana? apakah dibakar? atau dikubur? bukankah akan lebih baik lagi jika sampah atau barang yang sudah tak terpakai itu dimanfaatkan?
 
Sebelum kita memanfaatkan sampah, akan lebih baik jika kita mengenal apa yang akan kita manfaatkan. Biasanya sesuatu yang sudah tak terpakai disebut sebagai sampah. Sampah itu sendiri dibagi menjadi dua macam, yaitu sampah organik dan anorganik. Apasih sampah organik ? apasih sampah anorganik? Sampah organik terdiri dari sumber alam terbarui yang mudah membusuk. Contohnya : Daun tumbuh-tumbuhan, nasi atau sayur basi, kotorang hewan, dll. Sedangkan sampah anorganik yaitu sampah yang berasal dari sumber daya alam tak terbarui dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk proses pembusukan. Contohnya : Plastik, ban, kaca, karet, logam, dll.
Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir sampah yang ada ?. Ada 3 cara mengelola sampah anorganik, diantaranya sebagai berikut :
  1. Reuse (Penggunaan Kembali), menggunakan kembali sampah yang sekiranya masih bisa digunakan, contoh : botol minuman bekas, plastik, dsb.
  2. Reduce (Pengurangan), mengurangi segala sesuatu yang bisa menimbulkan sampah. Terutama jenis sampah anorganik yang membutuhkan proses pembusukan relative lebih lama dibandingkan dengan jenis sampah organik.
  3. Recycle (Daur Ulang), mengolah sampah atau barang yang sudah tak terpakai menjadi barang yang lebih bermanfaat.
Namun kali ini kami akan lebih menitik beratkan ke daur ulang sampah. Karena jika dilihat sekilas, banyak sekali sampah-sampah yang masih bisa dimanfaatkan. Selain menyelamatkan bumi, dengan mendaur ulang sampah kita juga bisa mengasah kreatifitas otak kita dan bahkan kita bisa berbisnis dengan metode mendaur ulang sampah ini. Contoh : memanfaatkan bungkus sabun cuci untuk dijadikan tas, memanfaatkan botol bekas menjadi lampion, dan apapun sesuai kreasi dan inovasi sendiri.
Selain mendaur ulang sampah ada baiknya jika kita mau untuk membersihkan lingkungan sekitar. Misal saat kita memilih botol bekas yang tak terpakai disungai, kita tidak hanya mengambil botol bekasnya saja. Akan tetapi jika kita melihat ada batang kayu atau smapah organik lainnya kita singkirkan ke bagian pinggir sungai agar membusuk. Atau agar tidak memakan tempat terlalu banyak, maka sampah tersebut kita keringkan dipinggir lalu kita bakar. Ibarat kata “Perjalanan seribu langkah dimulai dari satu langkah” maka mari kita selamatkan bumi dengan cara memanfaatkan barang-barang yang masih berguna disekitar kita.
Setidaknya hanya itu yang bisa kami sampaikan. Apabila ada kesalahan dalam penulisan kata ataupun kalimat mohon dimaafkan.
Semoga bermanfaat !! Salam Konservasi !!

Kontributor:
Santi Riksa Pratiwi (1511415112), M.Syaifudin Astriwibowo (5202415060), Ryan Syafaatillah Pratama (5202415076), Ahmad Afwan Fathoni (5202415068)

Sunday, October 4, 2015

KOMUNITAS KOMPOS SELAMATKAN LINGKUNGAN

Bangsa Indonesia terlalu bersemangat untuk mengejar ketertinggalannya dalam bidang akademik dan mulai lengah dengan pembentukan karakter kepada warga negaranya terutama para pemuda yang merupakan agen of change. Karakter yang seharusnya dapat diwujudkan antara lain kejujuran, tanggung jawab, religius, dan kepedulian terhadap lingkungan. Karakter kepedulian terhadap lingkungan sendiri sangat memiliki pengaruh yang besar untuk kesejahteraan dan kesinambungan hidup masyarakat. 
 

Kurang memahami pentingnya karakter peduli terhadap lingkungan akan mengakibatkan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya hanya memanfaatkan alam sekitar sebagai alat pemuas semata tanpa ikut andil untuk menjaga dan merawat lingkungan sekitar. Berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup secara garis besar diartikan sebagai “kesatuan ruang dengan semua benda termasuk di dalamnya manusia yang melangsungkan perikehidupan serta kesejahteraan”. Jadi diharapkan setiap individu peduli terhadap lingkungan sebagai tempat tinggalnya. Namun pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungannya, termasuk para mahasiswa yang masih sering membuang sampah tidak pada tempatnya. Dengan gaya hidup mahasiswa yang hanya terpaku pada perilaku hendosem dan konsumtif saja sehingga masih kurang memahami bagaimana pentingnya lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Memanfaatkan lingkungan untuk kehidupan tidak hanya sekedar menggunakan, namun dengan mengelola dan menjaga lingkungan tanpa mengorbankan lingkungan itu sendiri. Salah satu upaya mengelola dan menjaga lingkungan dapat dilakukan dengan mendaur ulang bahan yang sudah tidak terpakai menjadi suatu produk yang bermanfaat seperti kompos, pada lingkungan mahasiswa dapat diterapkan adanya komunitas kompos untuk mengurangi sampah-sampah yang ada di lingkungan kampus dan memciptakan produk yang bermanfaat bangi lingkungan itu sendiri, seperti yang sudah diterapkan di Universitas Muhammadiyah Surakarta yaitu Komunitas Kompos Universitas Muhammadiyah Surakarta yang berdiri sejak tahun 2012. Tempat produksi dan praktikum di rumah kompos tepatnya di sebelah barat pintu masuk taman edu park Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Komunitas kompos adalah komunitas pecinta lingkungan yang dimana mempunyai kegiatan membuat pupuk dari daun kering. Kemudian daun kering tersebut diolah menjadi pupuk kompos.

Adapun kegiatan yang dilakukan adalah :
  1. Mahasiswa diberikan penyuluhan atau pemahaman berkaitan dengan pembentukan karakter peduli lingkungan.
  2. Mahasiswa diberikan pelatihan langsung mulai dari pemilahan sampah sampai dengan proses produksi kompos sehingga menjadi pupuk siap pakai.
  3. Mahasiswa dilibatkan langsung dalam kerja nyata diantaranya mulai dari proses produksi sampai dengan pengepakan kompos.
  4. Mahasiswa diajak berbagi kepada masyarakat melalui kampanye-kampanye peduli lingkungan serta membagi-bagikan hasil kompos kepada masyarakat yang membutuhkan.
Komunitas kompos yang berada di Universitas Muhammadiah Surakarta dapat dijadikan contoh untuk menjaga lingkungan, dimulai dari cara mendapatkan bahan untuk membuat kompos yang sangat mudah dan termasuk memanfaatkan bahan yang sudah tidak terpakai, selain itu dapat juga dijadikan bahan kewirausahaan.

Kesimpulan :
Memanfaatkan lingkungan untuk kehidupan tidak hanya sekedar menggunakan, namun dengan mengelola dan menjaga lingkungan tanpa mengorbankan lingkungan itu sendiri. Dengan memanfaatkan barang yang sudah tidak terpakai (sampah) untuk didaur ulang kembali dan dimanfaatkan. Salah satu contohnya dengan membuat kompos dari daun kering yang diolah menjadi pupuk, seperti yang telah dilakukan oleh komunitas kompos Universitas Muhammadiah Surakarta.

Kontributor: 1511414060_PURWI MUFIDATI

Saturday, October 3, 2015

PENERAPAN ERGONOMI DALAM INTERIOR

Bagi siapapun yang ingin mendesain interior ruangan yang tepat bagi rumah mereka, banyak sekali cara dan sumber yang bisa anda gunakan untuk mengaplikasikannya di rumah anda. Dalam suatu desain interior, tentunya nilai estetika (keindahan) merupakan hal yang terpenting. Biasanya semua yang diimplementasikan mengacu pada konsep desain. Namun, apakah konsep estetika interior rumah Anda sudah ergonomis? pada umumnya, orang awam menata interior rumah mereka dengan bantuan jasa desainer interior atau hanya dengan menggunakan feeling dan keinginannya masing-masing.



Menurut Prof. Dr. Drs. I Nyoman Artayasa., M.Kes.,Ergonomi adalah ilmu interdisipliner yang mempelajari interaksi antara manusia dan objek yang digunakan serta kondisi lingkungan. Ergonomi juga mempelajari penyesuaian antara desain peralatan dan pekerjaan dengan kemampuan dan keterbatasan manusia. Ergonomi adalah ilmu, teknologi dan seni untuk menyerasikan alat-alat, cara kerja dan lingkungan, pada kemampuan, kebolehan dan batasan manusia, sehingga diperoleh kondisi kerja dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman dan efisien sehingga tercapai produktivitas yang setinggi-tingginya.

Dalam mempertimbangkan sebuah konsep perlunya penekanan estetika dalam desain interior, agar terciptanya desain yang memiliki karakter . Perhatian terhadap estetika dimaksudkan agar tercipta keindahan dan tentunya memperhatikan elemen-elemen desain inteior secara teknis untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan, sehingga pada akhirnya mampu meningkatkan produktivitas pemakainya. Dalam prosesnya, unsur-unsur tersebut harus melalui tahap-tahap yang ada, pada proses perencanaan serta melalui kajian ergonomis, mulai dari input, proses, serta pilihan terhadap output-nya.

Pengolahan unsur-unsur dalam pembentuk estetika yaitu titik, garis, bidang, bentuk, tekstur, pola, warna, cahaya, bahan yang disusun sedemikian rupa dalam suatu keseimbangan, harmoni, irama, kesatuan, komposisi, nada, titik pusat perhatian, proporsi dan lain sebagainya, harus pula berdasarkan pada kelebihan, kemampuan/batasan serta kekurangan manusia penikmat/pengguna seni yang timbul dari desain yang diwujudkan dalam rangka peneyesuaiannya dengan aktivitas, organisasi serta lingkungan sekitarnya.

Pada unsur ini peranan konsep ergonomi sangat mudah dirasakan keberadaannya. Karena itu, perhatian terhadap kelebihan, batasan dan kekurangan manusia dalam penyesuaiannya dengan aktivitas, organisasi dan lingkungan sangat mudah untuk diaplikasikan guna tercapainya keamanan dan keamanan. Dalam beraktivitas untuk menentukan fasilitas baik ruang maupun furnitur, manusia atau pemakai memiliki kelebihan dan batasan-batasan yang harus diperhatikan guna tercapainya kenyamanan dan keamanan. Demikian pula dalam beraktivitas perlu sebuah pengorganisaian yang benar agar semua hal yang diakibatkannya secara sistematik dapat menciptakan keamanan dan kenyamanan. Dalam beraktivitas pula perlu memperhatikan lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik. Dalam menciptakan itu semua diperlukanya pemilihan furnitre yang benar , dengan memilih dan mengkombinasikan bentuk warna dan pola , maka akan terciptanya yang bisa memberikan kepuasan estetika dan membuat penghuni terasa nyaman.

Dari penjelasan diatas kita bisa mengetahui bagaimana cara menciptakan suatu desain interior yang ergonomi yaitu dengan menciptakan estetika dengan berbagai macam aspek seperti memperhatikan pembentuk estetika seperti titik, garis, bidang, bentuk, tekstur, pola, warna, cahaya, bahan yang disusun sedemikian rupa dalam suatu keseimbangan, harmoni, irama, kesatuan, komposisi, dan nada, sehingga bisa memberikan kesan nyaman pada ruangan.

Kontributor:
ABDUL ROZAK _5112413018,

MERINTIS KAMPUS HIJAU (LAGI)

Konservasi, sebutan bagi wilayah yang menjunjung tinggi penghijauan, menjaga lingkungan, dan terpaut asri. Universitas Negeri Semarang adalah salah satu Universitas Konservasi yang terkenal di wilayah Semarang dan sekitarnya. Meskipun sekarang ini Unnes berganti menjadi Universitas Berwawasan Konservasi. Namun setidaknya Unnes mampu mempertahankan keasrian kampus yang selalu rindang. Beberapa bulan yang lalu Unnes melakukan penebangan pohon di sekitar kampus secara besar-besaran. Hal ini menunjukkan bahwa merosotnya Konservasi di Kampus yang terpandang hijau. Belum lagi pembangunan di beberapa sudut kampus yang sangat mengganggu. Jangka pembangunan dan penanamana kembali pohon yag ditebang pun kurang diperhatikan.

 
Dari sisi keasrian, Unnes memiliki hutan mini di beberapa sudut kampus yang sekarang ini dijadikan gedung-gedung megah. Hal itu menyebabkan mahasiswa mengeluh karena suhu berubah. “Saya sangat merasakan perubahan suhu di kampus Unnes ini. Dulu sebelum hutan mini dipangkas, sekitar jalan perpustakaan ini adem dan pastinya tidak sepanas sekarang ini. Menurut saya pembangunan segera diselesaikan dan janji penanaman kembali harus segera ditagih.” Tutur Mutia, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, FBS-Unnes. Dari sisi kesehatan, keberadaan hutan mini adalah asset bagi kesehatan warga Unnes. Mahasiswa Unnes setiap tahun meningkat, namun setiap tahun pula Unnes melakukan pembangunan, sedangkan per-manusia memerlukan oksigen setiap harinya. Keberlanjutan terkait dengan aspek lingkungan alami dan buatan, penggunaan energi, ekonomi, sosial, budaya, dan kelembagaan. Penerapan arsitektur hijau akan memberi peluang besar terhadap kehidupan manusia secara berkelanjutan. Aplikasi arsitektur hijau akan menciptakan suatu bentuk arsitektur yang berkelanjutan.
 
Kontributor:
Fitri Oktafia (1511414139), Purwi Mufidati (1511414060), Linda Titiyani H (2111414009), Rifanda Nur Fadilah (1511414138)

DILEMA ANTARA KONSERVASI ATAU KEMUDAHAN DALAM BERAKTIFITAS

Budaya jalan kaki di kampus yang di canangkan UNNES sebagai sarana bentuk cinta lingkungan yaitu dengan tidak mendambah polusi udara di sekitaran kampus memanglah sebuah rencana dan gagasan yang baik. Pihak UNNES berharap, mahasiswa manjadi kader-kader konservasi yang tidak hanya berbicara tentang konservasi namun juga melakukan aksi nyata tentang perilaku berkonservasi salah satunya yaitu dengan tidak menggunakan kendaraan bermotor di kampus. 
 
 
Dengan tidak menggunakan kendaraan bermotor di kampus maka mahasiswa mengurangi resiko bertambah buruknya kualitas udara di kawasan kampus karena polusi yang di akibatkan oleh kendaraan bermotor. Pada kenyataannya kini mahasiswa lebih memilih untuk menggunakan kendaraan bermotor di kawasan kampus dengan alasan akan lebih memudahkan dalam beraktifitas sehari hari. Ketika mahasiswa membawa kendaraan sediri di area kampus maka ketika sewaktu waktu akan berpindah tempat akan lebih mudah dan cepat, berbeda ketika mahasiswa harus berjalan kaki di area kampus yang cukup luas itu, terutama di jam-jam yang mana dalam sehari itu harus berpindah pindah gedung bahkan berpindah ke gedung fakultas lain dengan waktuyang sangat singkat, maka mereka akan kelelahan dan bahkan mungkin akan kekurangan waktu untuk berpindah tempat. Mahasiswa beranggapan dengan berjalan kaki di sekitaran kampus mahasiswa merasa aktifitasnya kurang bebas, mobitas mereka dari satu tempat ke tempat yang lain susah untuk dilakukan, belum lagi ketika siang hari yang panas terik, menjadi alasan yang sangat mendasar untuk para mahasiswa lebih memilih menggunkan kendaraan bermotor di area kampus. 
Adanya kendaraan umum seperti bus kampus untuk memudahkan mobilitas para mahasiwa pada kenyataannya tidak banyak membatu, bus kampus yang ada tidak sesuai dengan harapan mahasiswa, baik kinerja maupun jalur trek dari bus tersebut. Adanya bus kampus bagaikan tidak ada dan tidak banyak memberi pengaruh pada aktifitas para mahasiwa. Pilihan untuk konservasi atau kemudahan dalam beraktifitas memanglah merupakan piihan yang sangat sulituntuk ditentukan. Di satu sisi kita sebagai manusia ingin agar bumi terus terjaga tetap lestari maka kita harus melakukan tindakan konservasi yang salah satunya mengurangi polusi udara. Tapi di lain sisi kemudahan dalam beraktifitas juga sangat penting, ketika kenyamanan dalam beraktifitas terganggu maka akan membuat semangat akan berkurang. Jadi pilihan untuk berkonservasi atau untuk kenyamanan dalam beraktifitas itu ditentukan oleh masing-masing individunya. Masing-masing individu memiliki hak untuk mendapatkan kenyamanan beraktifitas dan juga memiliki kewajiban untuk melakukan kegiatan-kegiatan konservasi guna menjaga bumi tercinta ini.

Kontributor:
Rian Rizaldi (3211414006), Bagus Setiadji (3211414001), Annisa Islammei Rahayu (3211414004), Heni Kristinawati (3211414051), Putri Utami (3211414009)

Thursday, October 1, 2015

KEREN BERSEPEDA ATAU BERSEPEDA MOTOR ?

Dewasa ini banyak sekali transportasi yang memudahkan kita untuk bepergian kemana saja dengan cepat. Salah satunya adalah sepeda motor, hanya bermodalkan bensin sepeda motor dapat mengantarkan kita ketempat tujuan kita, baik yang dekat maupun jauh termasuk kampus konservasi UNNES. Namun pernahkah kita memikirkan dampak negatif dari penggunaan sepeda motor? Salah satu dampak negatif dari penggunaan sepeda motor yang sangat mengganggu adalah polusi udara. Asap dari kendaraan bermotor mengandung banyak zat yang dapat merusak lingkungan salah satunya adalah emisi karbon monoksida yang dapat menimbulkan pemanasan global yang menyebabkan kenaikan temperatur dipermukaan bumi atau lebih sering dikenal dengan Global warming. 

Salah satu upaya yang dapat kita lakukan untuk mengurangi pencemaran udara adalah dengan menggunakan alat transportasi ramah ligkungan seperti sepeda. Saat bepergian dengan jarak yang tidak terlalu jauh atau dekat. Dengan menggunakan sepeda berarti kita ikut peran serta dalam upaya penyelamatan dunia dari kerusakan akibat polusi. Apabila kita menggunakan sepeda, ini berarti kita telah berupaya mengurangi dua polusi sekaligus, yaitu polusi yang disebabkan asap kendaraan bermotor dan polusi suara yang disebabkan oleh suara kendaraan bermotor yang brisik. Dengan menggunakan sepeda efek rumah kaca penyebab global warming yang terjadi dibumi ini pun akan berkurang secara berkelanjutan sedikit demi sedikit. Selain menyebabkan polusi asap kendaraan bermotor juga dapat mengganggu kesehatan diantaranya sesak nafas dan ISPA (Infeksi saluran Pernapasan atas).

Keuntungan lain dari bersepeda adalah menghemat biaya. Karena sepeda tidak membutuhkan bahan bakar dan oli pelumas seperti pada kendaraan bermotor, hal ini juga termasuk penghematan BBM yang persediaannya tinggal sedikit. Apabila kita parkir sepeda di tempat perbelanjaan dan ditempat lainnya sepeda dibebeskan dari biaya parkir. Angka pencurian sepeda lebih kecil daripada angka pencurian sepeda motor.
Keuntungan lain dari bersepeda adalah terletak pada segi kesehatan. Dengan bersepeda dapat meningkatkan suasana hati, karena bersepeda memberi kesenangan dan kepuasan tersendiri sehingga dapat mengatasi kecemasan, stres dan depresi. Bersepeda membuat seseorang kelihatan 10 tahun lebih muda hal ini karena bersepeda menghilangkan kerutan tanda-tanda penuaan. Kehebatan lain dari bersepeda adalah dapat mencegah penyakit jantung, hal ini bedasarkan studi yang dilakukan oleh Britis Medical Association menemukan bahwa bersepeda sejauh 20 mil dalam seminggu dapat mengurangi resiko terkena penyakit jantung koroner sebesar 50 persen.
Jadi bagaimana menurut anda, keren mana bersepeda atau berseda motor?

Setelah mengetahui manfaat bersepeda tentu kita dapat menjawab pertanyaan diatas dengan tepat. Oleh karena itu, mari kita buat udara segar disetiap hari di lingkungan kita. Mulai dari saya, anda, keluarga dan Indonesia.

Kontributor:

Irfayanto(5401415029) Indra Adi Sukma (5202415083) Nusbatun solekah (5401415033) Riki Nor Safitri (5401415021)

LESTARI SELALU UNNESKU

Perubahan lingkungan yang cepat biasanya menyebabkan kepunahan massal. Salah satu perkiraan adalah bahwa berkurangnya spesies yang ada di bumiyang masih ada. Sejak kehidupan dimulai di bumi, lima kepunahan massal besar dan peristiwa kecil telah menyebabkan beberapa dampak dalam keanekaragaman hayati. Kerugian besar keanekaragaman hayati diklasifikasikan sebagai kepunahan massal dan kerugian besar terhadap kehidupan tanaman dan hewan. 

Keragaman hayati adalah istilah yang digunakan pertama kali oleh ilmuwan satwa liar dan pelestari Raymond F. Dasmann pada tahun 1968. Istilah ini banyak digunakan setelah lebih dari satu decade. Sampai kemudian "keanekaragaman alam" istilah itu biasa, yang diperkenalkan oleh Divisi Ilmu dari The Nature Conservancy dalam studi 1975 yang penting, yaitu "Pelestarian Keanekaragaman Alam." Dengan program 1980 Ilmu awal TNC dan kepalanya, Robert E. Jenkins, Lovejoy dan ilmuwan konservasi terkemuka lainnya pada saat di Amerika menganjurkan penggunaan "keanekaragaman hayati".
Keanekaragaman hayati itu tidak merata, melainkan sangat bervariasi di seluruh dunia maupun di dalam daerah. Di antara faktor lain, keragaman makhluk hidup tergantung pada suhu, curah hujan, ketinggian, geografi tanah dan kehadiran spesies lainnya. Seperti halnya di Universitas Negeri Semarang ini dimana terdapat banyak tumbuhan besar maupun kecil, tetapi jumlah satwa disini masih sedikit, terkadang dijumpai tupai di pohon-pohon besar. Selain itu, kita juga jarang menjumpai mahasiswa yang peduli akan tumbuhan dengan menyiram dan merawatnya serta terkadang ada warga UNNES yang masih membuang sampah tidak pada tempatnya.
Sebaiknya kita sebagai warga Universitas Negeri Semarang perlu akan adanya kesadaran diri terhadap alam mengingat bahwa kampus kita adalah kampus Konservasi. Keanekaragaman hayati mendukung jasa ekosistem termasuk kualitas udara, iklim (misalnya, CO2 penyerapan), pemurnian air, penyerbukan, dan pencegahan erosi.

Kontributor:
Nasfati Iktarastiwi (5401415020), Noor Istighfarin (5401415014), Arif Prasetio Adi (5401415005), Andhika Dwi Cahya (5202415084)